JAKARTA//trans24.id – Kelompok musik ‘Efek Rumah Kaca’ melanggengkan ingatan publik soal Munir dan perlawanan pada penindasan dengan lagu “Di Udara”. Lagu ini merupakan salah satu lagu “perlawanan” yang populer di Indonesia.
Vokalis dan gitaris Efek Rumah Kaca, Cholil Mahmud, mengakui bahwa Munir merupakan potret keberanian yang terlihat terang, bahkan ketika kita menemukannya dalam satu ruang yang paling gelap sekalipun. Cholil tidak pernah mengenal Munir secara personal, namun sepak terjang Munir yang dia dengar lewat pemberitaan media maupun kisah yang menyebar dari mulut ke mulut sudah cukup untuk membuatnya kagum.
“Andaikata [Munir masih hidup], wah, saya mungkin akan banyak belajar secara langsung. Kalau memang ada kesempatan bertemu,” tutur Cholil.
Kematian Munir pada September 2004 telah mendorong Cholil dan Efek Rumah Kaca memberi kesempatan kepada Munir untuk berdiri dengan panggung yang dia kenali betul: musik. Panggung itu membuat sosok Munir mengkristal keras.
Lagu “Di Udara” menjadi sebuah penghormatan yang penuh untuk Munir, seorang aktivis HAM yang berani melawan penindasan.


















